Share
Ada alasan tersendiri kenapa saya memberi judul postingan ini paket komplit. Bukan paket hemat atau paket sempurna. Paket komplit saya tujukan untuk seseorang yang saya suka saat ini. Saya nggak berani menyebut ini rasa cinta, karena bagi saya kata "cinta" memiliki arti yang tinggi dalam memandang lawan jenis. Walaupun tak dipungkiri kalau saya memang jatuh cinta dengan dia, jadi untuk selanjutnya izinkan saya menyebut kata suka aja ya daripada kata cinta. (terserah saya mau nulis apa, toh ini blog pribadi saya :p )
Saya menyebut dia paket komplit karena dulu saya pernah berceletuk dalam hati kalau suatu saat saya punya suami, saya ingin dia seperti ini, punya hobi ini, nggak suka ini tapi suka itu dan sederet celetukan yang lain yang saya harapkan sejak SMA :D. Mungkin ini bisa disebut kriteria suami, walaupun sampai saat ini saya belum pernah menuliskan sama sekali untuk list kriteria calon suami pada buku atau catatan penting saya.
Almost, dia hampir memenuhi kriteria calon suami saya, karena itu lah saya menyebut dia paket komplit :D Yang paling utama saya “cukup yakin” (bukan yakin banget) kalau agamanya baik dan selanjutnya dia buka seorang perokok, hari gini nyari lelaki bukan perokok itu seperti barang langka booo.. Seperti postingan saya sebelumnya
disini, saya menyebutkan bahwa lelaki yang nggak merokok itu keren sekali. Dan dia telah selangkah mencuri hati saya :D
Awal perkenalan kami lewat online, saya saat itu membuka jasa order dari luar negeri. Padahal dulu buka jasa order itu cuma iseng, karena keseringan belanja online di luar negeri jadi pengen nyoba buka jasa order. Dia merupakan klien saya yang kelima. Yang pasti saat pertama kali dia sms saya ingat, kalau saat itu saya lagi diluar buat beli martabak, habis isya' tiba-tiba ada sms yang minta buat orderkan barang dengan menyebut saya "bapak", dan saya nggak menyanggahnya. Karena dalam dunia online kayak gini, saya sering banget disebut bapak/mas ketika berhubungan dengan paypal, hosting, dan domain. Mungkin ranah itu masih didominasi oleh para lelaki kali ya. Saya pun membalas sesopan mungkin dan mengirim instruksi untuk cara order, dan dia meminta id YM saya untuk chat. Saya lupa tanggal pastinya kapan pertama kali kami chat, akhirnya saya membuka histori conversation di email dan menemukan kalau awal chat ini dimulai tanggal 1 Oktober 2012.
Awalnya kami chat biasa aja layaknya mitra bisnis dan menjelaskan panjang lebar tentang cara order. Tapi, ditengah chat tiba-tiba dia tahu identitas saya, dia menemukan profil saya di facebook dengan mengetik email saya di kolom pencarian, dan add profil saya. Saya langsung menolak dia, karena bagi saya pantang untuk berteman dengan customer. Saya pengen facebook pribadi hanya untuk berbagi dengan orang yang saya kenal bukan orang yang sama sekali belum punya mutual friends dengan saya. Saya menjelaskan alasan ini dan untungnya dia mengerti. Saya paham maksudnya mungkin dia takut saya melakukan penipuan, dan mencari identitas saya selengkap mungkin :D
Saat itu saya juga menyempatkan untuk melihat profilnya facebooknya, nggak tahu kenapa saat pertama kali liat PP nya, saya merasa kayak pernah ketemu sama dia sebelumnya (mungkin cuma perasaan saya aja :D ). Ternyata dia dulu lulusan SMAN komplek di Surabaya yang terkenal dengan siswanya yang pinter-pinter dan banyak yang masuk ke PTN favorit. Sejak dulu saya suka orang pinter, dan dia lulusan ITS. OMG, salah satu calon kriteria saya dulu adalah saya pengen banget dapat suami orang ITS. Karena tahun 2007 saya ditolak ITS nggak keterima SPMB, dulu pernah kepikiran, nggak papa deh gk keterima di ITS, siapa tahu nanti dapat suami orang ITS. Padahal saat itu gara-gara gk keterima di ITS, saya sampai nangis dua hari loh.. :D
Nah mulai ini lah pembicaraan kami mulai bersifat pribadi. Saya jadi tahu kalau perbedaan umur kami selisih 5 tahun. Dia belum menikah, dan cukup mapan karena telah bekerja diluar Surabaya pada salah satu cabang BUMN yang memiliki peran vital di Indonesia. Bahkan di usianya yang cukup matang saya sempat mengolok dia dengan sebutan homo karena tak kunjung menikah. Kalau dipikir-pikir saat itu, saya jahat banget deh ngatain dia homo.. :D
Karena keseringan komunikasi baik lewat chat atau sms sekedar ngasih tahu status barang, timbul perasaan suka saya ke dia mungkin gara-gara "witing tresno jalaran soko kulino". Saya menolak mati-matian rasa suka itu, karena saat itu saya lagi sibuk ngerjakan skripsi dan udah jalan semester 9, yang artinya mau nggak mau saya harus lulus semester 9 dan nggak boleh molor kuliah lagi, dulu saya punya cita-cita bisa lulus kuliah tepat waktu 8 semester. Disamping itu saya nggak pengen susah dengan urusan perasaan, karena urusan dengan hati nggak bisa disembuhkan dengan obat yang ada di toko manapun.
Akhirnya sebulan kemudian kami benar-benar bertatap muka. Dia datang kerumah untuk mengambil barang. Saya berusaha biasa saja dan seolah kami telah berteman lama, padahal asal tahu saja, saya gugup juga loh, karena dia lelaki pertama yang sendirian datang ke rumah saya. Banyak sih teman laki-laki yang main ke rumah, tapi tidak pernah sampai keatas rumah, paling cuma duduk diluar rumah. Model rumah saya itu lantai bawah dibuat toko dan gudang, terus lantai atas dibuat kayak kamar-kamar. Sampai-sampai orang baru (termasuk kustomer) tiap ke rumah ngira kalau rumah saya ini kos-kosan. Tolong dibayangkan sendiri ya, karena nggak mungkin saya foto-foto rumah saya.. :p
Ternyata dia cukup manis. Saya lebih suka orang manis daripada orang ganteng. Boleh lah buat diajak ke kondangan, dan nggak malu-maluin buat di pamerin ke teman. hehehe..emangnya dia barang pameran apa. :D Pulang dari rumah, dia sms tanya kok nggak ada bapak saya dirumah? saya bilang aja kalau saat itu bapak saya lagi cangkrukan di pos. Nggak tahu kenapa saat itu feeling saya bilang kalau dia punya masalah dengan ayahnya. Saya masih ber postive thingking aja, dia tanya begitu mungkin dia emang pengen tahu bapak saya karena udah ketemu dengan ibu saya, kedua dia ngira bapak saya tiada sehingga saya jadi tulang punggung keluarga, dan yang terakhir dia pengen liat bapak saya biar kalau mau ngelamar besok nggak deg2an, wah klo alasan yang terakhir ini ngarep banget.. :D Dan beberapa bulan kemudian feeling saya terbukti benar, kalau dia emang punya masalah dengan ayahnya, dan maap saya nggak bisa menyebutkan hal itu disini.. :)
Udah enam bulan lebih kami berhubungan sebagai mitra bisnis, dia termasuk orang yang loyal banget, dia selalu ngasih fee lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya, karena saya nggak matok harga buat jasa order barang. Selama waktu itu pula saya seringkali dibuat galau :D
Saya sadar kayaknya dia nggak tertarik pada saya, kenapa saya membuat kesimpulan seperti ini? Karena saya yang sering lebih dulu menyapa di chat saat dia online, sering sms nggak penting, jangan bayangkan sms nggak penting ini isinya “lagi ngapain?”, “Udah makan belum?“ saya paling anti mengirim sms kayak gitu pada seorang lelaki yang bukan siapa2 saya. Pernah ketika saya sms panjang banget dan sebelnya dia cuma jawab “OK”. Saya paling sebel klo dia balas sms cuma jawab OK, sekalian aja gk usah balas sms saya, asli beneran buang2 pulsa aja. Terus kadang kalau balas sms lamaaaa banget. Gimana gk galau coba, hahaha..ngenes banget ya saya ini :D Karena semakin sadar kalau dia gk tertarik, saya pernah menghapus contact dia di YM dan no hape nya di phone book. Malah gara2 ini ada kejadian lucu yang terjadi, ketahuan klo saya hapus no hapenya :D
Semakin pengen buat menghindari dia, malah saya merasa semakin sulit buat lupain dia, sempat terbesit buat ngeblock akun facebook nya sekalian biar saya nggak “stalking” status dia :D. Rasanya aneh juga kayaknya klo tiba-tiba saya ngeblock dia tanpa alasan yang jelas, karena saat itu ada barang pesanannya yang masih dirumah.
Dan untungnya saya bisa mengelola perasaan ini lebih positif nggak galau terus2an karena kalau hati saya ngurusi dia terus bisa-bisa skripsi saya nggak selesai2. Malah dia jadi salah satu semangat saya buat nyelesaikan skripsi, selain orang tua saya tentunya. Saya janji pada diri saya sendiri kalau saya bisa menyelesaikan skripsi, saya pengen ngajak dia keluar entah nonton atau makan2, tapi tentu saja tidak berdua. Karena saya takut orang ketiga si setan jadi obat nyamuk :D
Skripsi kelar, saya pun ingin menyebut dia didalam halaman persembahan, tapi nggak jadi karena tersadar lagi kalau kami bukan siapa2. Iya kalau dia jodoh saya, kalau bukan, bisa-bisa saat suami baca skripsi saya dia jadi cemburu lagi :D. Dan akhirnya kesempatan buat melunasi janji saya hampir tercapai, dia bersedia keluar makan2 bareng teman2 saya buat acara kelulusan, tapi gagal karena karena dia lagi sakit.
Saya berusaha menjadi teman yang baik buat dia (dalam urusan bisnis), tanpa pernah dia minta, urusan jika dikemudian hari dia jadi suka saya, itu saya anggap aja bonus dari Allah :) Yang penting saya udah berusaha menebar sinyal ke dia. Nggak apa-apa kan namanya juga usaha menjemput jodoh. Kata mas Ippoh, jodoh nggak bakalan datang kalau kita hanya berdiam diri saja, perlu usaha :D. Mungkin dengan menulis dia di blog ini juga merupakan usaha, siapa tahu tanpa sengaja dia membaca tulisan ini. Hehehe…
Tanggal 27 Maret, pulang dari wisuda saya nggak sengaja kesasar di sebuah blog yang isinya keren banget, membuka mata saya tentang jodoh. Saya seperti di ingatkan sama Allah kalo saya emang harus benar-benar menetralkan perasaan saya ke dia. Siapa tahu sebenarnya Allah udah mau mempertemukan saya dengan jodoh saya tapi karena hati saya yang terlalu condong ke dia, Allah masih menundanya. Dan saya nggak mau nasib saya kayak sahabat saya yang awalnya mereka hanya sebatas teman terus timbul perasaan suka dan cemburu. Dan si lelaki kesulitan buat melepas si perempuan karena terlalu suka. Saya nggak mau nasib saya seperti mereka. Saya ingin proses ketemu jodoh dan menikah nanti di Ridhoi oleh Allah.
Gimana kita bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah, jika proses untuk menuju kesana aja Allah nggak suka, karena saya masih smsan dan chat dengan orang yang bukan pasti jodoh saya. Dan Alhamdulillah mulai awal April ini saya mulai rajin sholat malam dan dhuha, saya juga lagi ikhtiar dengan matematika jodoh, saya berusaha nyicil sedekah buat jemput jodoh minimal selama 6 bulan, maksimal 1 tahun kemudian nyicil sedekahnya bisa lunas. Jadi jika Allah berkehendak, semoga 6-12 bulan kedepan saya bisa bertemu dengan jodoh saya.
Saya meminta kepada Allah untuk mempertemukan saya dengan si pangeran disaat yang tepat, karena saya nggak mau jadi zina kalau terus-terusan kepikiran dia. Tepat, saat saya benar-benar nyaman untuk menikmati hidup tanpa ada beban keuangan, saat saya udah mulai bisa masak enak, saat orang tua yakin kalau saya bisa memikul tanggung jawab berumahtangga, pokoknya saya pengen menikah disaat tepat dan pantas menurut Allah.
Setiap habis sholat saya selalu menyebut nama dia,
“Ya Allah kalau dia memang jodoh ku, kuatkanlah ikatan diantara kami, kalau memang dia bukan jodohku, jangan pernah sedetik pun hamba memikirkan dia, berikanlah yang lebih baik menurut Mu.”
Dan Alhamdulillah sejak semakin pasrah buat masalah jodoh ini, hati saya semakin lapang dan saya udah nggak pernah galau lagi masalah rasa suka saya ke dia, saat dia telat balas sms atau sama sekali nggak balas sms saya :)
Semoga Allah SWT terus membimbing saya dalam proses menuju ikrar suci itu agar selalu di Ridhoi oleh Nya. Aamiin Ya Rabbalalamiin..